Jumat, 08 April 2011

berita features buatan gw :p


Kesuksesan Seorang Pedagang Sayur


Sabar, tawakal, berdo’a dan murah senyum adalah kunci sebuah kesuksesan.

Oleh NIA KURNIAWATI

Untuk memulai suatu usaha, bukan berarti harus bermodal besar. Sumiyem (33) dan suaminya, Loso (38) contohnya. Dengan bermodal Rp.12.000,00 Mba Sum (panggilan akrabnya) memulai usaha dengan berjualan sayur mayur di daerah Karang Anyar, Neglasari, Tangerang dan sekarang terbilang sukses.
Wanita yang berasal dari Seragen, Jawa Tengah ini tiap pagi tampak sibuk melayani pembeli. Dengan ditemani sang suami, tiap hari ia harus bangun jam satu pagi untuk pergi ke pasar Anyar agar dapat membeli sayur mayur serta ikan-ikan segar. Tak ketinggalan bumbu-bumbu dapur ia beli untuk melengkapinya. Para pelanggan pun sering meminta Mba Sum untuk membawakan pesanan mereka.
Dalam sehari, Mba Sum dan suaminya dapat mengantongi keuntungan minimal Rp.150.000,00 dengan bermodal Rp.5.000.000,00 per hari. Bahkan jika hari-hari menjelang hari khusus seperti Idul Fitri, ia bermodal Rp.12.000.000,00 per hari. Usaha yang sudah 16 tahun ia jalani ini sudah menghasilkan mobil, motor, sawah dan juga rumah yang sekarang ia dan suami serta satu anak laki-lakinya tempati.
Sayur mayur, ikan serta bumbu-bumbu dapur yang ia jual sangat murah dan laris. Jadi tidak heran bila pukul 8 pagi dagangannya sudah habis diserbu oleh para pelanggannya. Mba Sum dan suaminya sangat mementingkan kepuasan pelanggan mereka. Yang unik, Mba Sum dan suaminya tidak melayani langsung para pelanggannya. Dengan keahliannya yang dapat menghitung cepat tanpa kalkulator, Mba Sum yang berada di tempat terpisah dari barang dagangannya hanya melayani pelanggan yang sudah ingin membayar belanjaannya. Sementara suaminya bertugas melayani pemotongan ayam, ikan dan daging. Disini Mba Sum dan suaminya menaruh dagangannya diatas terpal sebagai alasnya. Para pelanggan bebas memilih belanjaan sesuka hati mereka. Hal ini yang membuat semakin banyak pelanggan di tempat mereka. Karena bukan hanya dagangannya yang murah, tetapi pelanggannya pun merasa puas berbelanja disana. Cara dagang yang dilakukan Mba Sum dan suaminya bukan tidak mungkin mengalami kerugian.
“Pernah ada pembeli yang mengambil daging tetapi tidak membayar. Saya biarkan dan hanya menyerahkannya kepada Allah SWT.” kata Mba Sum.
Kesuksesan Mba Sum dan suaminya bukan hanya dirasakan oleh mereka saja, tetapi Mba Sum ikut membantu kedua adiknya untuk menyelesaikan sekolah mereka. Bahkan Mba Sum sudah membiayai keberangkatan adiknya ke Jepang untuk magang disana. Melihat kesuksesan Mba Sum, kakaknya pun mengikuti jejak adiknya yaitu berjualan sayur.

Masa lalu
Semasa kecil, wanita yang dulunya bercita-cita menjadi Polwan ini hidup serba kekurangan. Saat masih tinggal di Seragen, Jawa Tengah, setiap pulang dari sekolah selalu membantu kedua orangtuanya di sawah. Karena hidupnya yang serba kekurangan, ia hanya dapat mengenyam pendidikan sampai SMP.
Anak kedua dari empat bersaudara ini akhirnya menyusul kakaknya yang lebih dahulu merantau ke kota Tangerang. Ia dan kakaknya mengontrak sebuah rumah di Rangkas Bitung. Selama satu tahun, Mba Sum kerja disalah satu pabrik didaerah tersebut. tetapi setelah itu berhenti dan beralih menjadi pedagang pakaian.karena merasa tidak cocok, ia akhirnya meneruskan usahanya menjadi tukang sayur. Karena baginya peluang keuntungannya lebih besar daripada berdagang pakaian. Dari sinilah kisahnya dimulai.
Mba Sum mengaku, pada mulanya dia hanya bermodal Rp.12.000,00. Untuk berjualan, ia menggunakan sepeda yang ia pasangi keranjang besar di belakangnya untuk menaruh sayur mayur. Ia berjualan dengan berkeliling di perumahan Angkasa Pura II, Tangerang. Mba Sum tidak ingin berjualan di pasar sebab saingannya sangat banyak dan juga pergaulan disana sangat urakan.Karena kegigihannya dalam berdagang, ia yang awalnya menggunakan sepeda untuk berjualan sudah mampu membeli sepeda motor. Kesuksesannya semakin terlihat saat ia menggunakan mobil untuk berjualan sayur. Saat melihat sang istri begitu sibuk karena hanya berjualan seorang diri, suaminya yang awalnya berjualan bakso akhirnya ikut membantu Mba Sum berjualan.
Kesuksesannya dalam berjualan sayur tidak lantas lupa mengurus anak satu-satunya itu. Bahkan sebelum ia pergi untuk berjualan, ia tetap menyempatkan diri mempersiapkan segala keperluan pagi sang anak. Begitu juga saat pulang dari berjualan sayur.
Wanita yang saat ini tinggal di daerah Dumpit, RT 03 RW 05, Tangerang ini mengaku masih mempunyai keinginan yang belum tercapai, yaitu naik haji bersama suami dan memiliki tanah sendiri yang saat ini sudah dibangun oleh rumahnya itu ia akui masih disewanya dari pihak Angkasa Pura II.
Berkat kesuksesan dalam berjualan sayur, orangtuanya yang dulu hanya menggarap sawah milik orang lain sekarang sudah memiliki sawah sendri.
“bagi saya kuncinya adalah sabar,tawakal, berdo’a dan juga murah senyum,” katanya.

0 komentar :